image by: https://media.istockphoto.com/id
Seorang pemuda tanggung berusia tiga puluh
bermata sayu, kedua irisnya hampir beradu
senyumnya meremehkan gesturnya merendahkan
suaranya berat, ambigu, bertopeng citra mirip kakek dari anaknya
laksana buah dia dimatangkan, diperam, dimasak di tahta nomor dua
Pemuda itu bilang ia malas membaca di acara "ayo membaca"
Kepalanya berisi tetapi kita tak pernah tahu gagasan idenya
Pemuda itu adalah kosong
kosong adalah pemuda itu
Sejak sepuluh tahun yang lalu ketika dia menjadi juragan cendol
Ia gemar mencaci lawan bapaknya dengan makian di luar nalar
Ia gemar menghujat anak lawan bapaknya, mantan istrinya, orang miskin, buruh
Melecehkan wanita-wanita terhormat
Birahinya luntur menjadi artefak di dunia maya
Kini dibaca seluruh masyarakat termasuk mereka yang lima puluh delapan
Termasuk bapak yang dimakinya yang meminangnya menjadi wakilnya
Sungguh ku tak sudi
Sungguh hatiku sedih
Dosa apakah kami sehingga diazab dengan pemimpin sepeti bapaknya?
Dosa apalagi kami sehingga diazab dengan pemimpin seperti anaknya?
Ya Allah, ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA.